Sunday, September 13, 2026
Imaji News
No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
No Result
View All Result
Imaji News
No Result
View All Result
Home KOLOM EDITORIAL

Pertumbuhan 5,61 Persen dan Ilusi Kemakmuran yang Perlu Diwaspadai

by Redaksi Imaji
June 16, 2026
in EDITORIAL, KOLOM
Pertumbuhan 5,61 Persen dan Ilusi Kemakmuran yang Perlu Diwaspadai
0
SHARES
6
VIEWS
Share on Whatsapp

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal pertama 2026 sempat diposisikan sebagai kabar menggembirakan. Pemerintah memandang capaian tersebut sebagai sinyal bahwa mesin ekonomi nasional kembali bergerak agresif di tengah tekanan global.

Namun, di balik angka yang tampak impresif itu, muncul pertanyaan yang justru lebih penting: apakah pertumbuhan tersebut benar-benar mencerminkan kesehatan ekonomi riil masyarakat? Sejumlah kajian terbaru dari LPEM FEB UI menunjukkan bahwa headline pertumbuhan itu menyimpan persoalan serius terkait kualitas, konsistensi, dan keberlanjutannya.

Kritik utama muncul dari ketidaksesuaian data sektoral. LPEM menyoroti kontradiksi ketika sektor listrik, gas, dan air justru mengalami kontraksi, sementara industri manufaktur dilaporkan tumbuh lebih dari lima persen.

Secara logika ekonomi, manufaktur yang meningkat semestinya diiringi kenaikan konsumsi energi. Ketika pasokan listrik justru menurun, maka validitas pertumbuhan industri patut dipertanyakan. Atas dasar itu, LPEM memperkirakan pertumbuhan riil Indonesia kemungkinan hanya berada di kisaran 4,6–4,9 persen, jauh di bawah angka resmi BPS.

Masalahnya bukan semata soal selisih angka statistik. Yang lebih berbahaya adalah ketika negara mulai terlalu bergantung pada pencitraan pertumbuhan tanpa memperhatikan kualitas fondasinya.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat seharusnya ditopang oleh produktivitas industri, ekspor yang kuat, investasi berkualitas, dan daya beli masyarakat yang stabil.

Namun, laporan berbagai lembaga justru menunjukkan bahwa lonjakan kuartal pertama 2026 banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus jangka pendek, terutama momentum Ramadan, Idulfitri, bantuan sosial, serta ekspansi program-program fiskal populis.

Dalam teori ekonomi pembangunan, pertumbuhan semacam ini sering disebut sebagai growth illusion, yakni pertumbuhan yang terlihat tinggi secara statistik tetapi belum tentu mencerminkan penguatan ekonomi struktural.

Angka PDB memang penting, tetapi ia tidak otomatis identik dengan kesejahteraan. Bahkan dalam berbagai diskursus ekonomi modern, PDB kerap dikritik karena terlalu menekankan aktivitas ekonomi kuantitatif tanpa melihat distribusi manfaat dan kualitas pertumbuhan itu sendiri.

BACA JUGA  Menemukan Posisi Ideal Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Yang patut dicemaskan adalah efek jangka panjang terhadap kepercayaan publik. Statistik ekonomi bukan sekadar laporan administratif, melainkan fondasi legitimasi kebijakan negara.

Ketika publik mulai meragukan kredibilitas data resmi, maka dampaknya bisa meluas pada iklim investasi, keputusan bisnis, hingga persepsi pasar internasional.

LPEM bahkan mengutip riset internasional yang menyatakan bahwa turunnya kepercayaan terhadap statistik negara dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi secara signifikan.

Di ruang publik digital, keraguan itu mulai tampak. Diskusi masyarakat di berbagai forum daring mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi saat ini benar-benar berasal dari penguatan sektor produktif atau hanya ditopang ekspansi belanja negara yang bersifat sementara.

Sebagian bahkan mengkhawatirkan ketergantungan berlebihan pada stimulus fiskal akan menciptakan ekonomi yang tampak tumbuh, tetapi rapuh ketika dukungan anggaran mulai berkurang.

Karena itu, pemerintah dan otoritas statistik perlu memandang kritik ini sebagai alarm akademik, bukan ancaman politik.

Transparansi metodologi, keterbukaan data sektoral, dan independensi statistik nasional harus dijaga secara serius. Indonesia tidak membutuhkan angka pertumbuhan yang sekadar tinggi di atas kertas. Yang lebih dibutuhkan adalah pertumbuhan yang kredibel, produktif, dan mampu dirasakan masyarakat luas.

Pada akhirnya, ekonomi bukan perlombaan kosmetik angka. Publik mungkin bisa terkesan oleh headline pertumbuhan 5,61 persen hari ini.

Tetapi tanpa fondasi yang kuat, headline semacam itu justru berpotensi menjadi ilusi optimisme yang menunda kesadaran terhadap masalah yang sesungguhnya.

SendShareTweetShare
Previous Post

Geliat Gig Economy di Kota Solo

Next Post

Membaca Arah Bisnis Digital 2026

Related Posts

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo
DAERAH

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo

September 6, 2026
Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying
PENDIDIKAN

Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying

September 1, 2026
Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI
DAERAH

Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI

September 1, 2026
Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu
NASIONAL

Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu

August 31, 2026
Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen
DAERAH

Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen

August 30, 2026
Profesor Yusuf Zenal Abidin Terbitkan Buku Sosiologi Islam
PENDIDIKAN

Profesor Yusuf Zenal Abidin Terbitkan Buku Sosiologi Islam

August 23, 2026
Next Post

Membaca Arah Bisnis Digital 2026

BERITA POPULER

  • Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 15 Mahasiswa Unisri Terjun KKN di Desa Doyong Sragen, Siapkan Program Solutif untuk Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dosen Prodi Manajemen Unisri Gelar Pengabdian Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Undangan Menulis Jurnal Ilmiah Bisnis Digital dan Manajemen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KKN Nawasena Boyolali Berdayakan Perempuan Lewat Daur Ulang dan Pemanfatan SDA Melimpah.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BERITA TERBARU

DAERAH

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo

September 6, 2026
PENDIDIKAN

Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying

September 1, 2026
DAERAH

Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI

September 1, 2026
NASIONAL

Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu

August 31, 2026
DAERAH

Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen

August 30, 2026
ADVERTISEMENT

Portal berita imajinews.com merupakan media siber di bawah naungan Indonesia Imaji Group (SK Kemenkumham Nomor: AHU-0009010-AH.01.06 Tahun 2026). Kabar baik untuk Indonesia.

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan

Kontak Kami

imajinews@gmail.com

0851 5840 5844

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

Berita Eksklusif Terkini di Imaji News