Surakarta, imajinews.com – Ancaman bencana di kawasan pesisir tidak lagi dapat dipandang sebagai peristiwa yang datang sesekali. Banjir rob, abrasi, penurunan muka tanah, gelombang ekstrem, hingga tekanan terhadap lingkungan dan mata pencaharian masyarakat berlangsung dalam konteks risiko yang semakin kompleks.
Persoalan tersebut menjadi titik berangkat Musta’ana, S.Sos., M.Si. dalam buku terbarunya berjudul Membangun Kapasitas Kelembagaan untuk Ketahanan Pesisir: Tata Kelola Bencana di Pantai Utara Jawa Timur, yang diterbitkan oleh CV Indonesia Imaji.
Buku ini menawarkan cara pandang bahwa menghadapi bencana pesisir tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik atau memperkuat respons ketika bencana sudah terjadi.
Ketahanan membutuhkan kelembagaan yang mampu mengantisipasi risiko, merencanakan langkah penanganan, mengoordinasikan berbagai pihak, mengelola sumber daya, melibatkan masyarakat, serta belajar dari pengalaman bencana secara berkelanjutan.
Konteks Pantai Utara Jawa Timur menjadi perhatian utama dalam buku ini karena kawasan pesisir merupakan ruang yang mempertemukan kepentingan pembangunan dengan berbagai persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, dan pemerintahan. Dengan demikian, risiko bencana tidak hanya berkaitan dengan kondisi alam, tetapi juga dengan kapasitas masyarakat dan institusi dalam merespons perubahan serta tekanan yang berlangsung secara terus-menerus.

Menggunakan perspektif administrasi publik, kelembagaan, dan tata kelola bencana, buku ini membawa pembaca memahami ketahanan pesisir secara lebih komprehensif. Pertanyaan yang hendak dijawab bukan semata bagaimana masyarakat bertahan ketika bencana datang, melainkan bagaimana institusi dibangun agar mampu mengantisipasi, beradaptasi, memulihkan diri, dan bertransformasi menghadapi risiko. Pendekatan tersebut menempatkan kelembagaan sebagai bagian penting dari pembangunan ketahanan masyarakat pesisir.
Musta’ana sendiri merupakan akademisi pada Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bojonegoro (Unigoro). Kajian mengenai kebencanaan juga bukan tema yang sepenuhnya terpisah dari aktivitas akademiknya.
Pada 2026, Musta’ana tercatat sebagai ketua penelitian “Kapasitas Kelembagaan Manajemen Bencana dalam Membangun Ketahanan Pesisir di Wilayah Pantura Jawa Timur” dalam skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR).
Ia juga terlibat dalam sejumlah kajian lain, antara lain penelitian mengenai manajemen pengelolaan pasar tradisional, inovasi teknologi dalam kewirausahaan publik, serta pelayanan publik inklusif bagi penyandang disabilitas.
Publikasi Musta’ana juga menunjukkan perhatian terhadap persoalan tata kelola dan kebijakan publik. Di antaranya penelitian tentang strategi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana dalam mencegah bullying di Kabupaten Bojonegoro serta kajian mengenai kualitas pelayanan publik melalui aplikasi digital pemerintahan desa. Latar akademik tersebut memberikan konteks bagi buku yang secara khusus mempertemukan perspektif kelembagaan dengan persoalan ketahanan pesisir.
Diterbitkan dengan ISBN 978-634-7833-39-6, Membangun Kapasitas Kelembagaan untuk Ketahanan Pesisir hadir bukan hanya sebagai pembahasan mengenai bencana, tetapi sebagai ajakan untuk melihat kesiapsiagaan dari sisi tata kelola.
Buku ini relevan bagi mahasiswa, akademisi, aparatur pemerintahan, praktisi kebencanaan, pemerhati lingkungan, maupun masyarakat pesisir yang ingin memahami bagaimana kapasitas kelembagaan dan kolaborasi dapat menjadi fondasi untuk membangun wilayah Pantura Jawa Timur yang lebih tangguh menghadapi risiko di masa depan.









