Penulis: T.H. Hari Sucahyo*
Ketika gletser runtuh dan banjir bandang menerjang Nepal pada 26 Agustus 2026, dunia kembali diingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia hadir dalam bentuk yang nyata, keras, dan kadang mematikan. Es yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari lanskap Himalaya tidak lagi dapat dipandang sebagai sesuatu yang selalu stabil. Ketika kondisi alam berubah, kehidupan manusia yang bergantung padanya ikut berada dalam ketidakpastian.
Hingga minggu pertama bulan September ini, lebih dari 1.290 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan lebih dari 5.600 orang masih hilang. Angka tersebut bukan sekadar statistik bencana. Di balik setiap angka terdapat keluarga, rumah, pekerjaan, dan kehidupan yang dalam sekejap berubah akibat aliran es, batu, lumpur, dan sedimen yang bergerak dari kawasan pegunungan menuju wilayah hilir.
Bencana tersebut bermula dari keruntuhan sebagian besar massa gletser dan batuan di kawasan Himalaya, dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Material yang runtuh kemudian mengalir melalui sistem sungai dan memicu banjir bandang. Sungai Bhote Koshi dan Trishuli ikut terdampak. Permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air menjadi bagian dari wilayah yang terkena dampak.
Bagi saya, tragedi ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita bencana yang kemudian tenggelam oleh pemberitaan lain. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar di baliknya: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada lingkungan kita, dan seberapa siap kita menghadapi perubahan yang berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi?
Rahmawati Husein, seorang Pakar Tata Kelola Bencana, melihat bencana tersebut sebagai peringatan serius tentang meningkatnya risiko di kawasan pegunungan tinggi di tengah perubahan iklim. Pandangan ini penting karena perubahan kondisi es dan gletser di Himalaya tidak dapat ditempatkan hanya sebagai urusan Nepal. Alam tidak mengenal garis batas yang dibuat manusia. Perubahan yang terjadi di satu wilayah dapat menghasilkan konsekuensi di wilayah lain.
Sungai yang berasal dari pegunungan mengalir melintasi batas negara. Perubahan ekosistem dapat memengaruhi ketahanan pangan dan air. Perubahan massa es daratan pada akhirnya turut berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut global. Dengan kata lain, persoalan iklim selalu memiliki dimensi lintas wilayah.
Meski demikian, kita juga perlu berhati-hati. Tidak setiap bencana yang terjadi di tengah pemanasan global otomatis dapat disebut sebagai akibat langsung perubahan iklim. Penyebab dan mekanisme keruntuhan gletser di Nepal masih terus dipelajari. Suhu yang lebih tinggi dan pencairan yang berlangsung cepat memang dapat berkontribusi terhadap ketidakstabilan gletser, tetapi hubungan langsung antara satu peristiwa dengan perubahan iklim membutuhkan kajian ilmiah lebih lanjut.

Kehati-hatian tersebut bukan berarti kita harus mengabaikan kaitan dengan perubahan iklim. Justru sebaliknya, kita perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas. Data tentang kawasan Hindu Kush Himalaya menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Laporan International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) pada 2026 mencatat laju kehilangan es gletser di kawasan tersebut telah meningkat dua kali lipat sejak 2000.
Dalam periode 1990–2020, luas gletser menyusut sekitar 12 persen, sedangkan cadangan es berkurang sekitar 9 persen. Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa yang sedang berubah bukan sekadar pemandangan pegunungan. Yang berubah adalah sebuah sistem alam yang selama ini menopang kehidupan manusia.
Himalaya sering dibayangkan sebagai bentang alam yang jauh, megah, dan nyaris tidak tersentuh. Padahal, kawasan Hindu Kush Himalaya merupakan sumber sistem sungai yang menopang kehidupan hampir dua miliar orang di wilayah hilir. Air dari kawasan pegunungan tersebut berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, pertanian, energi, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika gletser berubah, persoalannya bukan hanya apakah gunung akan kehilangan es. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana perubahan itu memengaruhi air yang tersedia bagi manusia, kapan air datang dalam jumlah berlebihan, dan kapan justru menjadi semakin sulit diperoleh. Perubahan kriosfer yang mencakup gletser, salju, dan permafrost, dapat meningkatkan berbagai risiko. Danau glasial dapat mengalami perubahan yang meningkatkan potensi banjir.
Lereng dapat menjadi tidak stabil. Longsor dan aliran material dapat terjadi. Perubahan pola salju juga dapat memengaruhi ketersediaan air dalam jangka panjang. Karena itu, kita tidak boleh melihat perubahan iklim hanya dari temperatur yang naik beberapa derajat. Perubahan iklim bekerja melalui sistem yang saling terhubung. Ia mengubah kondisi es, air, tanah, laut, cuaca, dan ekosistem. Pada akhirnya, perubahan tersebut kembali kepada manusia dalam bentuk risiko.
Di sinilah bencana Nepal menjadi relevan bagi Indonesia. Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya keruntuhan gletser di Himalaya dengan Indonesia yang ribuan kilometer jauhnya? Jawabannya adalah: hubungan itu tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi konsekuensinya dapat bersifat global. Penyusutan gletser pegunungan berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut bersama dengan hilangnya massa lapisan es dan pemuaian termal air laut.
Tentu saja, bukan berarti air dari bencana Nepal mengalir begitu saja hingga menaikkan permukaan laut Indonesia. Prosesnya jauh lebih kompleks dan berlangsung dalam jangka panjang. Tetapi bagi negara kepulauan seperti Indonesia, setiap perubahan pada sistem iklim global seharusnya menjadi perhatian. Kita memiliki ribuan pulau, wilayah pesisir yang luas, dan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada kawasan pantai.
Kenaikan muka air laut, perubahan pola hujan, banjir, kekeringan, gelombang panas, dan berbagai bencana hidrometeorologi bukan lagi isu yang hanya dibicarakan dalam forum internasional. Dampaknya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari Nepal: jangan menunggu bencana terjadi untuk mulai membangun kesiapsiagaan.
Di kawasan yang memiliki gletser, pemantauan harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Pemetaan wilayah rawan harus diperbarui. Sistem peringatan dini harus bekerja dan benar-benar dipahami masyarakat. Tata ruang harus mempertimbangkan perubahan risiko, bukan hanya kondisi lingkungan pada saat pembangunan dilakukan. Prinsip yang sama berlaku di Indonesia. Kita membutuhkan pemetaan risiko yang lebih dinamis.
Wilayah yang dahulu dianggap relatif aman belum tentu memiliki tingkat risiko yang sama ketika kondisi iklim berubah. Infrastruktur harus dirancang bukan hanya untuk menghadapi kondisi normal, tetapi juga untuk menghadapi kondisi ekstrem yang semakin mungkin terjadi. Lebih dari itu, kita membutuhkan perubahan cara berpikir dalam melihat bencana. Bencana bukan semata-mata kejadian alam.
Besarnya dampak sering kali ditentukan oleh bagaimana manusia membangun permukiman, mengelola lingkungan, merencanakan infrastruktur, serta menyiapkan masyarakat menghadapi risiko. Dalam konteks perubahan iklim, pendekatan tersebut menjadi semakin penting. Mitigasi dan adaptasi tidak boleh dipertentangkan. Kita harus melakukan keduanya secara bersamaan.
Mitigasi berarti mengurangi penyebab pemanasan global, terutama dengan menekan emisi gas rumah kaca, mempercepat transisi energi bersih, menjaga hutan, dan melindungi ekosistem. Sementara adaptasi berarti menerima kenyataan bahwa sebagian perubahan sudah berlangsung dan mempersiapkan masyarakat untuk menghadapinya. Bencana Nepal menunjukkan bahwa adaptasi bukan pilihan tambahan. Ia merupakan kebutuhan.
Dunia juga membutuhkan kerja sama yang lebih kuat. Kawasan Hindu Kush Himalaya sendiri mencakup wilayah sejumlah negara, sehingga perubahan pada gletser, salju, dan permafrost tidak mungkin ditangani secara terpisah. Pertukaran data, pemantauan bersama, sistem peringatan dini, dan strategi regional menjadi semakin penting.
Persoalan perubahan iklim bukan hanya tentang menyelamatkan gletser. Ini tentang menyelamatkan kehidupan yang bergantung pada sistem alam tersebut. Ketika es di Himalaya berubah, ketika laut perlahan naik, ketika hujan menjadi semakin sulit diprediksi, dan ketika bencana hidrometeorologi menjadi semakin kompleks, semuanya mengingatkan kita pada satu hal: bumi bekerja sebagai sebuah sistem yang saling terhubung.
Karena itu, tragedi Nepal seharusnya tidak dipandang sebagai bencana yang jauh dari Indonesia. Ia adalah alarm. Alarm bahwa perubahan lingkungan dapat bergerak melampaui batas negara, melampaui batas wilayah, bahkan melampaui generasi. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perubahan iklim benar-benar terjadi. Pertanyaan yang jauh lebih mendesak adalah apakah kita bersedia mengubah cara kita membangun, mengelola risiko, dan menjaga bumi sebelum alarm berikutnya berubah menjadi tragedi yang lebih besar.
__________
* Penggagas Forum Kajian Keutuhan Ciptaan (FKKC) “SEMESTA”









