Wednesday, October 28, 2026
Imaji News
No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
No Result
View All Result
Imaji News
No Result
View All Result
Home KOLOM

Duka Sunyi Krisis Iklim dan Hilangnya Memori Indrawi

Sebuah ironi terbesar perubahan iklim; Kita sangat sibuk menghitung apa yang dapat diukur, tetapi sering kali lupa memperhatikan apa yang dapat dirasakan.

by Redaksi Imaji
October 19, 2026
in KOLOM, OPINI
Elegi Sungai: Ketika Alam Menanggung Jejak Kegelapan Manusia
0
SHARES
18
VIEWS
Share on Whatsapp

Penulis: T.H. Hari Sucahyo*

Perubahan iklim sering kali dibahas melalui bahasa angka. Kita menghitung kenaikan suhu rata-rata global, mengukur penurunan cadangan air tanah, memetakan luas hutan yang hilang, dan memperkirakan jumlah spesies yang terancam punah. Semua data tersebut penting karena membantu kita memahami skala persoalan secara objektif.

Di balik laporan ilmiah dan grafik statistik, ada bentuk kehilangan lain yang jauh lebih sunyi dan sulit dikuantifikasi, yaitu hilangnya pengalaman indrawi yang selama ini dianggap begitu biasa sehingga manusia tidak pernah membayangkan harus melestarikannya. Salah satu contohnya adalah aroma tanah yang muncul ketika hujan pertama turun setelah kemarau panjang. Aroma yang dikenal sebagai petrichor itu selama berabad-abad hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kita tumbuh bersamanya tanpa pernah berpikir bahwa pengalaman tersebut dapat berubah atau bahkan menghilang. Padahal, bagi banyak orang, aroma itu bukan sekadar bau tanah yang basah. Ia merupakan pengalaman yang utuh, sebuah peristiwa yang melibatkan ingatan, suasana hati, dan hubungan emosional manusia dengan alam.

Barangkali di sinilah letak ironi terbesar perubahan iklim. Kita sangat sibuk menghitung apa yang dapat diukur, tetapi sering kali lupa memperhatikan apa yang dapat dirasakan. Padahal, hubungan manusia dengan alam tidak hanya dibangun melalui kebutuhan material, melainkan juga melalui pengalaman sensorik yang membentuk identitas dan memori kolektif.

Generasi sebelumnya tumbuh dengan keyakinan bahwa hujan akan selalu datang pada waktunya. Mereka menganggap pergantian musim sebagai sesuatu yang stabil dan dapat diprediksi. Aroma tanah setelah hujan bukanlah pengalaman yang istimewa karena langka, melainkan karena ia merupakan bagian normal dari ritme kehidupan. Tidak ada alasan untuk mengabadikannya karena semua orang berasumsi bahwa pengalaman tersebut akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kini, asumsi itu mulai goyah. Di berbagai wilayah dunia, termasuk kawasan tropis, pola musim semakin sulit diprediksi. Periode kekeringan berlangsung lebih panjang, sementara hujan yang turun cenderung datang dalam intensitas yang lebih ekstrem. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga mengubah kualitas hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

BACA JUGA  Strategi Blue Ocean: Mengubah Persaingan Menjadi Inovasi Tak Tertandingi

Anak-anak yang tumbuh di wilayah yang semakin rawan kekeringan mungkin tidak akan memiliki hubungan emosional yang sama dengan hujan seperti generasi pendahulu mereka. Mereka dapat mengenal hujan sebagai fenomena yang datang secara tiba-tiba, merusak, dan tidak menentu. Bahkan ketika hujan turun, kondisi lingkungan yang telah mengalami degradasi mungkin tidak lagi mampu menghadirkan pengalaman yang sama.

Kita sering lupa bahwa pengalaman indrawi manusia sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Indra penciuman tidak berdiri sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang rumit antara tanah, mikroorganisme, tumbuhan, atmosfer, dan siklus air. Aroma petrichor sendiri lahir melalui proses yang sangat spesifik. Selama periode kering, tumbuhan melepaskan minyak tertentu ke permukaan tanah.

Pada saat yang sama, bakteri tanah, terutama kelompok aktinomiset, menghasilkan senyawa bernama geosmin. Ketika hujan pertama turun, tetesan air membantu melepaskan partikel-partikel kecil yang membawa senyawa tersebut ke udara sehingga dapat terhirup oleh manusia. Proses yang tampak sederhana ini sebenarnya sangat rapuh. Ia membutuhkan tanah yang sehat, keberadaan mikroorganisme yang beragam, serta pola hujan yang relatif stabil.

Ketika salah satu komponen terganggu, pengalaman yang selama ini kita anggap biasa dapat berubah secara permanen.Kita mungkin masih melihat hujan turun dari langit. Kita masih mendengar suara tetesan air yang membentur permukaan tanah. Sesuatu yang selama ini diam-diam melengkapi pengalaman tersebut perlahan menghilang.

Barangkali inilah jenis kehilangan yang paling sulit dijelaskan. Manusia tidak kehilangan sebuah objek yang dapat disentuh atau dihitung, melainkan kehilangan hubungan emosional yang terbentuk selama bertahun-tahun. Kehilangan itu tidak datang secara mendadak sehingga hampir tidak pernah menimbulkan kepanikan. Ia muncul perlahan, nyaris tak terasa, sampai suatu hari seseorang menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dan tidak dapat dikembalikan seperti semula.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan semata persoalan lingkungan, melainkan persoalan budaya. Banyak tradisi manusia lahir dari hubungan yang sangat intim dengan kondisi alam setempat. Kita sering menganggap kebudayaan sebagai hasil ciptaan manusia sepenuhnya, padahal sebagian tradisi hanya dapat bertahan apabila lingkungan yang menopangnya tetap stabil.

Salah satu contoh menarik dapat ditemukan pada tradisi mitti attar di India. Selama berabad-abad, para perajin membuat parfum yang berusaha menangkap aroma hujan pertama yang menyentuh tanah kering. Mereka mengolah tanah liat tertentu, mengeringkannya, memanggangnya, lalu menyulingnya bersama minyak cendana untuk menghasilkan wewangian yang menyerupai petrichor.

Tradisi ini lebih dari sekadar kerajinan parfum. Ia merupakan bentuk dokumentasi budaya terhadap pengalaman indrawi manusia. Para perajin secara tidak langsung sedang mengabadikan sebuah peristiwa alam yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan iklim mulai menghadirkan tantangan baru. Periode kekeringan yang semakin panjang dan perubahan karakteristik tanah mengancam fondasi ekologis yang menopang tradisi tersebut. Bukan karena masyarakat kehilangan minat, melainkan karena alam yang menjadi sumber inspirasinya ikut berubah.

BACA JUGA  Menemukan Posisi Ideal Manusia di Era Kecerdasan Buatan

Di sisi lain, industri parfum modern menghadirkan sebuah paradoks yang menarik. Selama bertahun-tahun, para pembuat parfum berusaha mereproduksi aroma hujan ke dalam botol. Mereka meneliti geosmin dan menciptakan formula sintetis yang mampu membangkitkan sensasi serupa. Sekilas, upaya tersebut mungkin terlihat sebagai strategi komersial. Namun, ada makna yang lebih mendalam.

Upaya itu dapat dipandang sebagai bentuk pelestarian yang tenang, sebuah usaha manusia untuk menyimpan jejak pengalaman yang perlahan terancam hilang dari dunia nyata. Mungkin terdengar aneh membayangkan sebotol parfum sebagai arsip lingkungan hidup. Akan tetapi, pada tingkat tertentu, itulah yang sedang terjadi. Manusia berusaha menyelamatkan sesuatu yang tidak dapat dipotret, tidak dapat dipajang di museum, dan tidak dapat disimpan dalam bentuk benda fisik. Yang sedang dicoba untuk dipertahankan adalah perasaan.

Meski demikian, teknologi memiliki batas yang tidak bisa dilampaui. Tidak ada formula parfum yang mampu menghadirkan keseluruhan pengalaman petrichor. Aroma tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama konteks yang lebih besar. Ada panas yang melelahkan sebelum hujan tiba, ada langit yang perlahan berubah warna, ada tanah yang retak, dan ada rasa lega yang muncul ketika air akhirnya turun setelah penantian panjang.

Semua unsur itu tidak dapat dimasukkan ke dalam sebuah botol. Kita mungkin dapat mereplikasi aromanya, tetapi tidak dapat mereplikasi waktu yang melahirkannya. Kita dapat meniru sensasinya, tetapi tidak dapat menyalin makna yang terkandung di dalamnya. Di sinilah tersimpan kesedihan yang paling sunyi. Semakin maju kemampuan manusia untuk mensimulasikan alam, semakin jelas pula pengakuan bahwa alam yang asli sedang berubah.

Di masa depan, mungkin akan muncul museum aroma, perpustakaan sensorik, atau perangkat digital yang mampu memproduksi kembali bau hujan dengan akurasi tinggi. Semua itu tentu bermanfaat untuk pendidikan dan pelestarian budaya. Keberadaannya sekaligus menjadi pengingat bahwa sesuatu yang dahulu tersedia secara gratis kini membutuhkan rekayasa teknologi untuk dihadirkan kembali.

BACA JUGA  Memasuki Era Ekonomi "Ubet"

Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya bagaimana menyelamatkan spesies, menjaga ekonomi, atau melindungi infrastruktur manusia. Kita juga perlu bertanya apakah kita sedang berusaha mempertahankan kemampuan manusia untuk mengalami dunia dengan cara yang sama seperti yang pernah dialami oleh nenek moyang kita.

Pertanyaan itu penting karena banyak kenangan masa kecil tidak disimpan dalam bentuk gambar, melainkan dalam bentuk aroma. Bau rumput yang baru dipotong, udara laut pada pagi hari, asap kayu bakar, dan aroma tanah setelah hujan memiliki kemampuan unik untuk menghubungkan manusia dengan masa lalu. Ketika pengalaman-pengalaman tersebut menghilang, yang lenyap bukan hanya sensasi fisik, melainkan juga sebagian cara manusia membangun memori tentang dirinya sendiri.

Perubahan iklim bukan hanya tentang bumi yang menjadi lebih panas, melainkan tentang dunia yang secara perlahan kehilangan kemampuan menghadirkan pengalaman-pengalaman sederhana yang selama ini membuat manusia merasa dekat dengan alam. Dan mungkin, di antara semua kehilangan yang sedang berlangsung, yang paling sunyi adalah ketika suatu hari nanti aroma hujan setelah kemarau panjang tidak lagi menjadi kenangan bersama, melainkan sesuatu yang hanya bisa ditemukan di dalam sebuah botol parfum.

_________

*  penggagas Forum Kajian Keutuhan Ciptaan (FKKC) “SEMESTA”

SendShareTweetShare
Previous Post

Praktisi Hukum Firman Adi Soeryo Bhawono Terbitkan Buku Paradigma Baru Hukum Pidana Indonesia

Next Post

Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing

Related Posts

Momentum Perbaiki Pembiayaan Kebencanaan Indonesia
KOLOM

Hari Santri 2027: Ketika Bertanya Agama Bisa ke AI, Bagaimana Kelak Posisi Pesantren?

October 28, 2026
Nugroho Arie Putranto Terbitkan Buku untuk Mereka yang Lelah Menghadapi Hidup
ADVERTORIAL

Nugroho Arie Putranto Terbitkan Buku untuk Mereka yang Lelah Menghadapi Hidup

October 22, 2026
Punya Riset Seputar Bisnis Digital? DIGITIVE Siap Menampungnya di Edisi Januari 2027
PENDIDIKAN

Punya Riset Seputar Bisnis Digital? DIGITIVE Siap Menampungnya di Edisi Januari 2027

October 28, 2026
Politeknik Akbara Surakarta Gelar Wisuda, Siapkan Tenaga Profesional di Tiga Bidang
PENDIDIKAN

Politeknik Akbara Surakarta Gelar Wisuda, Siapkan Tenaga Profesional di Tiga Bidang

October 21, 2026
Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing
EKONOMI-POLITIK

Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing

October 19, 2026
Praktisi Hukum Firman Adi Soeryo Bhawono Terbitkan Buku Paradigma Baru Hukum Pidana Indonesia
Uncategorized

Praktisi Hukum Firman Adi Soeryo Bhawono Terbitkan Buku Paradigma Baru Hukum Pidana Indonesia

October 28, 2026
Next Post
Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing

Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing

BERITA POPULER

  • Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 15 Mahasiswa Unisri Terjun KKN di Desa Doyong Sragen, Siapkan Program Solutif untuk Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dosen Prodi Manajemen Unisri Gelar Pengabdian Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Undangan Menulis Jurnal Ilmiah Bisnis Digital dan Manajemen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KKN Nawasena Boyolali Berdayakan Perempuan Lewat Daur Ulang dan Pemanfatan SDA Melimpah.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BERITA TERBARU

KOLOM

Hari Santri 2027: Ketika Bertanya Agama Bisa ke AI, Bagaimana Kelak Posisi Pesantren?

October 28, 2026
ADVERTORIAL

Nugroho Arie Putranto Terbitkan Buku untuk Mereka yang Lelah Menghadapi Hidup

October 22, 2026
PENDIDIKAN

Punya Riset Seputar Bisnis Digital? DIGITIVE Siap Menampungnya di Edisi Januari 2027

October 28, 2026
PENDIDIKAN

Politeknik Akbara Surakarta Gelar Wisuda, Siapkan Tenaga Profesional di Tiga Bidang

October 21, 2026
EKONOMI-POLITIK

Memahami Total Quality Management: Strategi Membangun Organisasi Berkualitas dan Berdaya Saing

October 19, 2026
ADVERTISEMENT

Portal berita imajinews.com merupakan media siber di bawah naungan Indonesia Imaji Group (SK Kemenkumham Nomor: AHU-0009010-AH.01.06 Tahun 2026). Kabar baik untuk Indonesia.

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan

Kontak Kami

imajinews@gmail.com

0851 5840 5844

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

Berita Eksklusif Terkini di Imaji News