Penulis: Muhammad Luthfi Hamdani
Sekarang kalau kita ingin tahu sesuatu tentang agama, tidak harus selalu datang ke kiai atau membuka kitab. Tinggal buka chatbot AI, ketik pertanyaan, lalu beberapa detik kemudian keluarlah jawaban yang panjang, rapi, dan kelihatannya meyakinkan.
Mau bertanya soal salat, zakat, hukum jual beli, sampai persoalan moral yang agak rumit, bisa. Bahkan kalau pertanyaannya kurang jelas, kita bisa bertanya lagi berkali-kali tanpa takut dianggap cerewet.
Ini menarik sekaligus agak mengkhawatirkan. Sebab selama ini, kalau ingin belajar agama secara mendalam, kita mengenal pesantren, kiai, kitab kuning, pengajian, dan tradisi belajar dari guru ke murid.
Sekarang, sebagian pengetahuan yang dulu harus dicari melalui proses panjang bisa diperoleh sambil rebahan. Lalu pertanyaannya: kalau AI sudah bisa menjelaskan banyak hal tentang agama, untuk apa orang masih perlu mondok?
Tentu saja, urusan belajar agama tidak sesederhana mencari jawaban di internet. AI bisa memberikan penjelasan yang terdengar pintar, tetapi belum tentu benar. Ia bisa mengutip pendapat ulama, tetapi kita belum tentu tahu apakah sumbernya tepat, konteksnya sesuai, atau penjelasannya justru mencampuradukkan berbagai pendapat.
Masalahnya, tidak semua orang punya bekal untuk memeriksa jawaban tersebut. Kadang-kadang, sesuatu yang disampaikan dengan bahasa meyakinkan memang lebih mudah dipercaya daripada penjelasan yang panjang dan berbelit-belit.
Padahal, belajar agama bukan sekadar mengumpulkan jawaban atas pertanyaan. Di pesantren, ada tradisi sanad keilmuan, yakni jalur pengetahuan dari guru kepada murid yang terhubung dengan tradisi keilmuan sebelumnya.
Santri tidak hanya membaca kitab, tetapi juga mendengarkan penjelasan kiai, mempelajari perbedaan pendapat, memahami cara berpikir ulama, dan belajar adab. Ada proses panjang yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh mesin yang pandai menyusun kalimat.
Bayangkan seseorang bertanya kepada AI tentang kesabaran. Dalam hitungan detik, ia bisa mendapatkan penjelasan dari berbagai sudut pandang, lengkap dengan kutipan ayat dan hadis. Tetapi memahami penjelasan tentang sabar tentu berbeda dengan belajar menjadi orang yang sabar.
Yang pertama bisa diperoleh dari membaca. Yang kedua membutuhkan latihan, pengalaman, dan sering kali teguran dari orang lain. Dalam hal ini, guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi, melainkan juga manusia yang memberi contoh bagaimana ilmu dijalankan dalam kehidupan.
Namun, bukan berarti pesantren harus memusuhi AI. Zaman berubah, cara manusia memperoleh pengetahuan juga berubah. Dulu orang belajar melalui manuskrip, kemudian buku cetak, rekaman ceramah, situs keislaman, dan media sosial.
Sekarang ada chatbot yang bisa menjawab pertanyaan secara interaktif. Tidak ada salahnya pesantren memanfaatkan teknologi ini untuk mencari referensi, menerjemahkan teks, atau membantu santri memahami materi.
Yang penting, santri juga diajari bahwa jawaban AI harus diperiksa, sumbernya harus ditelusuri, dan persoalan agama yang rumit tetap perlu dikonsultasikan kepada guru yang kompeten.
Justru di sinilah pesantren punya pekerjaan rumah. Santri perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi sekaligus kemampuan meragukan jawaban yang kelihatannya benar. Kiai dan ustaz juga perlu memahami bagaimana AI bekerja, termasuk kelemahannya.
Pesantren bisa mengembangkan perpustakaan digital, menyediakan sumber keislaman yang terverifikasi, dan menyusun aturan penggunaan AI dalam pembelajaran.
Jangan sampai santri dilarang menggunakan teknologi tanpa diberi penjelasan, atau sebaliknya, dibiarkan menggunakannya tanpa tahu bagaimana memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh.








