imajinews.com, Surakarta – Pasar Jongke di Kota Surakarta, Jawa Tengah, menghadapi persoalan sepinya aktivitas perdagangan meski telah direvitalisasi dengan bangunan tiga lantai yang lebih modern. Pasar yang diresmikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 27 Juli 2024 itu kini masih menyisakan banyak kios dan los kosong, memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pembenahan pasar tradisional dalam menarik pembeli.
Laporan RRI pada September 2026 menyebutkan, sekitar 400 kios dan los di Pasar Jongke masih kosong. Padahal, pasar tersebut memiliki fasilitas berjualan yang tersebar di beberapa lantai dengan pembagian zona berdasarkan jenis komoditas. Kondisi ini menunjukkan bahwa bangunan yang megah dan fasilitas yang diperbarui belum otomatis menjamin ramainya transaksi jual beli.
Keluhan serupa juga datang dari pedagang. Joko Sudibyo, pedagang yang telah berjualan di Pasar Jongke sejak 1998, mengaku sulit memperoleh omzet harian seperti yang diharapkan. “Terus terang, sekarang ini jualan sepi. Untuk mendapatkan uang Rp200.000 sampai Rp300.000 sehari saja susah. Kadang-kadang Rp100.000 dapat, kadang-kadang tidak,” ujarnya, Selasa (13/10/2026), sebagaimana dikutip Joglosemar News.
Selain minimnya pembeli, persoalan zonasi dan fasilitas pendukung turut menjadi sorotan. Sejumlah pedagang menilai pengaturan lokasi jualan belum berjalan optimal, sementara ketiadaan fasilitas seperti lift atau eskalator dianggap menyulitkan akses pengunjung ke lantai atas. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pedagang yang menempati area yang tidak banyak dilalui pembeli.
Pemerintah Kota Surakarta sebelumnya menyatakan akan menata ulang zonasi dan mengembangkan lantai atas untuk kegiatan ekonomi kreatif agar lebih menarik pengunjung. Revitalisasi Pasar Jongke sendiri menghabiskan anggaran sekitar Rp124 miliar. Kini, pekerjaan rumah pemerintah bukan sekadar menjaga bangunan tetap bersih dan megah, melainkan memastikan pasar kembali menjadi ruang ekonomi yang hidup; tempat pedagang memperoleh penghasilan dan masyarakat punya alasan untuk datang berbelanja.










