Surakarta – Kebutuhan tenaga kesehatan di bidang Teknologi Bank Darah di Indonesia masih sangat tinggi. Sedikitnya 2.000 tenaga medis dibutuhkan untuk mengisi posisi di sekitar 400 Unit Transfusi Darah (UTD) yang tersebar di berbagai daerah.
Besarnya kebutuhan tersebut membuka peluang karier yang menjanjikan bagi lulusan bidang ini, terutama di tengah meningkatnya standar pelayanan kesehatan nasional.
Kepala Bagian Pengembangan Sumber Daya PMI Solo, Budi Purwanto, menjelaskan bahwa setiap UTD idealnya memiliki sedikitnya lima tenaga kesehatan khusus Teknologi Bank Darah.
“Regulasi terbaru dari pemerintah mengatur bahwa tenaga kesehatan, termasuk yang menangani UTD minimal harus berijazah Diploma III,” ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PMI Solo mendirikan Akademi Teknologi Bank Darah (Akbara) Surakarta yang membuka Program Studi Teknologi Bank Darah dengan kapasitas dua kelas atau sekitar 80 mahasiswa setiap tahun.
Saat ini, di Indonesia baru terdapat enam akademi yang secara khusus mencetak tenaga profesional di bidang tersebut.
Selain menjadi salah satu UTD terbesar di Indonesia, PMI Solo juga mengelola sekitar 140.000 kantong darah setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Soloraya dan daerah sekitarnya.
Dengan jumlah lembaga pendidikan yang masih terbatas, pemenuhan kebutuhan 2.000 tenaga ahli diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa profesi Teknologi Bank Darah masih menjadi bidang yang sangat prospektif sekaligus memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan darah yang aman dan berkualitas bagi pelayanan kesehatan di Indonesia.



