Buku setebal 250 halaman ini berangkat dari pandangan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup dimaknai sebagai membuka pintu sekolah bagi peserta didik yang beragam. Lebih dari itu, sekolah perlu menjamin penerimaan, partisipasi, perlindungan, dan kesempatan belajar yang setara bagi setiap anak. Ketika keberagaman tidak dikelola dengan baik, perbedaan justru dapat berkembang menjadi stigma, pelabelan, ejekan, pengucilan, hingga berbagai bentuk ketidakadilan.
Karya ini dikembangkan dari penelitian mengenai pendekatan guru dalam menanamkan sikap anti-bullying pada siswa di sekolah inklusif di Yogyakarta. Penelitian tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Islam Indonesia (UII). Berdasarkan pengalaman dan pandangan para pendidik dari sejumlah sekolah dasar inklusif, buku ini mencoba mempertemukan realitas lapangan dengan pemikiran akademik mengenai pendidikan inklusif, perlindungan anak, serta pencegahan perundungan.
Pembahasannya tidak berhenti pada definisi bullying dan pendidikan inklusif. Para penulis menguraikan persoalan keberagaman peserta didik, kerentanan anak terhadap perundungan, stigma yang muncul di lingkungan sekolah, hingga peran guru dalam membangun empati dan perilaku prososial. Buku ini juga membahas langkah penanganan dan pemulihan kasus, termasuk pendampingan terhadap korban, pelaku, dan saksi serta pentingnya tindak lanjut setelah sebuah persoalan terjadi.

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah tawaran Model PENTA-Inklusif. Kerangka tersebut mencakup Penerimaan, Edukasi Relasional, Navigasi Kebutuhan, Tanggap dan Pulihkan, serta Aliansi Sistem. Model ini dikembangkan sebagai sintesis konseptual berdasarkan hasil wawancara dan kajian literatur untuk membantu sekolah melakukan refleksi dan merencanakan pengembangan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan setara.
Penulis pertama, Dr. M Nurul Ikhsan Saleh, S.Pd.I., M.Ed., merupakan dosen dan peneliti Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, UII. Ia memiliki perhatian akademik pada pendidikan perdamaian, pendidikan Islam, multikulturalisme, pendidikan inklusif, serta pencegahan kekerasan dan perundungan di sekolah. Nurul juga menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam bidang Ilmu Pendidikan pada 2026 dengan fokus pada pendidikan perdamaian dan upaya mengatasi kekerasan di lingkungan sekolah.
Rekam jejak akademiknya juga terlihat melalui sejumlah karya dan publikasi. Di antaranya buku Peace Education: Konsep dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam, Memahami Islam sebagai Agama Perdamaian Perspektif Alquran, serta karya terkait persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan. Pengalaman tersebut membuat tema pendidikan inklusif dan pencegahan bullying memiliki keterkaitan kuat dengan bidang kajian yang selama ini digelutinya. Sementara itu, Dian Febriany Putri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merupakan akademisi di Program Studi Psikologi UII dengan bidang kepakaran yang berkaitan dengan psikologi pendidikan dan psikologi industri serta organisasi. Pertemuan perspektif pendidikan dan psikologi menjadi salah satu kekuatan dalam pembahasan buku ini.
Melalui buku ber-ISBN 978-634-7833-11-2 ini, kedua penulis menawarkan sebuah pesan bahwa sekolah yang aman dan ramah anak tidak dapat dibangun hanya melalui aturan atau satu program sesaat. Pencegahan bullying membutuhkan keteladanan guru, pengembangan empati, dukungan teman sebaya, keterlibatan keluarga, serta tata kelola sekolah yang berpihak pada martabat setiap anak. Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying pun hadir sebagai referensi bagi mahasiswa, pendidik, peneliti, pengelola sekolah, keluarga, tenaga profesional, dan pembuat kebijakan yang ingin mendorong lahirnya ruang pendidikan yang lebih inklusif, setara, dan manusiawi.