Surakarta, imajinews.com – Agama tidak hanya hidup di masjid, pesantren, atau ruang-ruang ibadah. Nilai keagamaan juga hadir dalam keluarga, pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, ekonomi, hingga interaksi masyarakat di ruang digital. Dari perspektif inilah Prof. Dr. Yusuf Zenal Abidin, M.M., Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menghadirkan buku Sosiologi Islam: Kajian Religious Studies yang diterbitkan oleh CV Indonesia Imaji. Buku ini mengajak pembaca melihat hubungan antara keberagamaan dan kehidupan sosial secara lebih dekat dan kontekstual.
Melalui bahasa yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, buku ini tidak menempatkan agama semata-mata sebagai persoalan ritual. Penulis menghubungkan iman, ibadah, akhlak, identitas, tradisi, dakwah, keadilan sosial, dan perubahan masyarakat dalam satu pembahasan. Pesan penting yang ditawarkan adalah bahwa keberagamaan tidak cukup diukur dari simbol dan aktivitas ritual, tetapi juga tercermin melalui kejujuran, amanah, kepedulian, tanggung jawab, serta keberanian menjaga martabat manusia.
Pendekatan tersebut membuat persoalan sosial tidak hanya dipandang sebagai persoalan individu. Dalam perspektif sosiologi Islam yang ditawarkan buku ini, perilaku manusia juga dibentuk oleh hubungan sosial, lingkungan, kebiasaan, serta aturan yang berlaku dalam masyarakat. Karena itu, memahami persoalan seperti perbedaan, konflik, ketimpangan, dan persoalan kemanusiaan membutuhkan cara pandang yang lebih luas agar nilai agama dapat diterjemahkan menjadi solusi dalam kehidupan bersama.
Prof. Dr. Yusuf Zenal Abidin, M.M. memiliki rekam jejak panjang di dunia akademik dan penelitian. Ia tercatat sebagai dosen di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan kini memiliki home base pada Program Studi S3 Studi Agama-Agama Pascasarjana. Kampus tersebut mengukuhkannya sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Islam. Ia juga tercatat sebagai anggota Senat Universitas UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan pernah dipercaya sebagai Ketua Komisi IV Senat Universitas.
Produktivitas Yusuf Zenal Abidin dalam dunia akademik juga terlihat dari sejumlah buku yang pernah ditulisnya. Di antaranya Retorika (2011), Sistem Sosial Budaya di Indonesia (2013), Manajemen Komunikasi dan Metode Penelitian Komunikasi (2015), Tionghoa, Dakwah dan Keindonesiaan, Komunikasi Pemerintahan (2016), serta Filsafat Postmodern (2018). Ia juga terlibat dalam penelitian mengenai pemberdayaan ekonomi umat melalui wakaf generasi milenial bersama Deden Effendi.
Pengalaman tersebut memperkuat karakter buku Sosiologi Islam yang mempertemukan kajian agama dengan realitas masyarakat. Pembahasan mengenai masjid dan pesantren, misalnya, tidak berhenti pada institusi keagamaan, tetapi dapat diperluas pada bagaimana nilai Islam bekerja dalam hubungan sosial. Demikian pula perkembangan media digital dibaca sebagai ruang baru tempat identitas keagamaan, dakwah, perbedaan pandangan, dan relasi antarmanusia terus mengalami perubahan.
Buku ini karena itu tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa studi agama atau sosiologi. Pendidik, pendakwah, pengelola lembaga keagamaan, peneliti, maupun masyarakat umum dapat memanfaatkannya untuk memahami agama melalui perspektif sosial yang lebih luas. Pendekatan yang komunikatif membuat pembaca diajak tidak sekadar memahami konsep, tetapi juga melakukan refleksi terhadap kehidupan di lingkungan terdekat—mulai dari keluarga hingga masyarakat.
Melalui Sosiologi Islam: Kajian Religious Studies, CV Indonesia Imaji menghadirkan literatur yang mencoba menjembatani ajaran agama dengan dinamika kehidupan sosial. Dengan ISBN 978-634-7833-15-0, buku ini menawarkan satu gagasan yang relevan di tengah perubahan zaman: keberagamaan yang bermakna bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjalankan ritual, tetapi juga bagaimana iman diterjemahkan menjadi kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, keadilan, dan sikap menghargai sesama dalam kehidupan sehari-hari.









