Surakarta, imajinews.com – Taman Balekambang, Surakarta, dipenuhi pengunjung saat Festival Payung Indonesia (FESPIN) 2026 digelar pada 4–6 September 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-13, festival ini menghadirkan beragam karya seni berbasis payung yang memadukan tradisi, kreativitas, dan budaya dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Beragam payung tidak sekadar menjadi perlengkapan tradisional, tetapi disulap menjadi instalasi dan karya seni yang menarik perhatian pengunjung. Kehadiran karya dari seniman dan komunitas internasional, termasuk Thailand dan Malaysia, turut memperluas warna festival yang menjadikan payung sebagai medium pertemuan budaya.
FESPIN 2026 mengangkat tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, yang menempatkan padi dan ketahanan pangan sebagai bagian penting dari pesan budaya festival. Selain instalasi seni payung, rangkaian kegiatan juga mencakup pertunjukan tari dan musik, fashion show, pasar kuliner, serta pameran UMKM.

Festival ini juga memperkuat jejaring budaya internasional melalui hubungan sister-festival dengan Bosang Umbrella Festival di Chiang Mai, Thailand. Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana tradisi payung dapat menjadi pintu pertukaran gagasan seni dan budaya antarnegara, sekaligus memperkenalkan Surakarta sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan seni berbasis tradisi.
Ramainya pengunjung menunjukkan bahwa seni tradisi masih memiliki daya tarik ketika dikemas dengan pendekatan kreatif dan terbuka terhadap kolaborasi. Festival Payung Indonesia pun tidak hanya menjadi tontonan, tetapi ruang untuk mempertemukan masyarakat, seniman, pelaku ekonomi kreatif, dan komunitas dalam satu perayaan budaya di tengah Kota Surakarta.








