Penulis: T.H. Hari Sucahyo*
Setiap orang memiliki satu atau beberapa tempat yang tersimpan begitu dalam di dalam ingatan, tempat yang tidak hanya menjadi lokasi, tetapi juga menjadi bagian dari diri mereka sendiri. Tempat-tempat itu hidup di dalam memori sebagai ruang yang penuh ketenangan, perlindungan, dan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi saya, salah satu tempat itu adalah sebuah sungai yang dahulu menjadi bagian penting dari masa kecil saya. Sungai itu bukan sekadar aliran air yang membelah daratan, melainkan saksi dari tawa, percakapan sederhana, dan kebahagiaan yang tumbuh tanpa beban.
Dalam ingatan saya, sungai itu selalu tampak sempurna. Airnya jernih dan dingin, mengalir tenang sambil memantulkan cahaya matahari yang hangat. Pepohonan di sekitarnya memberikan keteduhan yang menenangkan, sementara suara gemericik air berpadu dengan canda tawa yang mengisi hari-hari kecil saya. Di tempat itulah saya belajar menikmati hal-hal sederhana.
Tidak ada kemewahan, tidak ada teknologi yang mengalihkan perhatian, hanya alam yang begitu tulus menyambut siapa pun yang datang kepadanya. Bertahun-tahun berlalu, kehidupan membawa saya ke banyak tempat dan memperkenalkan saya pada berbagai pengalaman baru. Namun, seperti banyak orang lainnya, saya sering menyimpan kerinduan terhadap tempat-tempat yang pernah membentuk masa kecil saya.
Ada keinginan untuk kembali, seolah-olah tempat itu masih menunggu dengan kesetiaan yang sama, masih menyimpan suasana yang tidak berubah meskipun waktu terus berjalan. Belum lama, saya kembali ke sana. Saya datang dengan perasaan penuh harap dan sedikit kegembiraan. Saya membayangkan akan menemukan kembali ketenangan yang pernah saya rasakan.
Saya berharap suara air yang mengalir akan menyambut kedatangan saya dan membangkitkan kenangan yang selama ini tertidur di dalam ingatan. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika saya tiba di tempat tersebut.
Sungai yang saya temukan terasa asing. Seolah-olah ia tidak lagi mengenali saya, dan saya pun sulit mengenali dirinya. Tempat yang dahulu begitu akrab kini berubah menjadi sesuatu yang jauh berbeda. Sekilas, nostalgia memang sempat hadir. Ada perasaan hangat yang muncul saat mengingat masa lalu, tetapi perasaan itu hanya bertahan sesaat.
Ketika saya mulai memperhatikan keadaan di sekeliling, kenyataan yang terpampang di depan mata menggantikan semua kenangan indah yang pernah ada. Di tepian sungai berserakan botol plastik, bungkus makanan, dan sepatu yang telah ditinggalkan begitu saja. Bau tidak sedap memenuhi udara dan merusak kesegaran yang dahulu menjadi ciri khas tempat ini.
Pemandangan tersebut sudah cukup menyedihkan, tetapi ada hal lain yang jauh lebih mengganggu. Di sepanjang jalan menuju sungai, tersembunyi di antara semak-semak dan pepohonan, berdiri berbagai gambar dan patung yang menyeramkan. Benda-benda itu tampak seperti bagian dari sesuatu yang sengaja ditinggalkan, menciptakan suasana yang tidak nyaman dan sulit dijelaskan.
Pemandangan itu meninggalkan kesan yang mendalam. Tempat yang dahulu menjadi simbol kepolosan dan keamanan kini berubah menjadi ruang yang terasa suram. Seolah-olah sungai itu tidak hanya menampung sampah yang dibuang manusia, tetapi juga menyerap sisi gelap dari perilaku manusia itu sendiri. Tempat yang pernah menjadi ruang bermain anak-anak kini terlihat seperti tempat yang kehilangan jiwanya.
Melihat kerusakan lingkungan sebenarnya bukan hal yang baru. Kita sering mendengar berita tentang pencemaran sungai, penebangan hutan, atau perubahan alam yang terjadi akibat ulah manusia. Namun, melihatnya secara langsung di tempat yang memiliki nilai emosional yang begitu besar memberikan rasa sakit yang berbeda. Ada perasaan kehilangan yang tidak mudah dijelaskan. Seakan-akan sebagian dari masa kecil saya ikut menghilang bersama perubahan yang terjadi di tempat itu.
Saya mulai menyadari bahwa alam memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap jejak manusia. Alam menyimpan kenangan baik yang pernah kita ciptakan, tetapi ia juga menerima segala bentuk kelalaian dan keburukan yang kita tinggalkan. Sungai yang dahulu mengalir membawa kesejukan kini juga membawa beban yang tidak semestinya ia tanggung. Tidak hanya sampah fisik, tetapi juga ketidakpedulian, keserakahan, dan sikap acuh yang perlahan mengikis keindahannya.
Perubahan ini menjadi pengingat bahwa waktu memang tidak bisa dihentikan, tetapi kerusakan seperti ini bukanlah sesuatu yang tidak dapat dicegah. Banyak dari kerusakan yang terjadi berasal dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap sepele. Satu botol yang dibuang sembarangan, satu kantong plastik yang ditinggalkan, atau satu tindakan yang mengabaikan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika hal-hal kecil itu dilakukan berulang kali oleh banyak orang, dampaknya menjadi sangat besar dan sulit diperbaiki.
Saat berjalan meninggalkan sungai itu, saya merasakan kesedihan yang begitu dalam. Kenangan indah yang selama ini tersimpan di dalam hati harus berdampingan dengan kenyataan pahit yang ada di depan mata. Saya menyadari bahwa generasi mendatang mungkin tidak akan pernah melihat sungai itu seperti yang pernah saya lihat dulu. Mereka mungkin tidak akan merasakan kejernihan airnya, keteduhan pepohonannya, atau kebebasan sederhana yang pernah menjadi bagian dari masa kecil saya.
Sungai tidak mampu berbicara untuk membela dirinya sendiri. Ia tidak dapat berteriak ketika dipenuhi sampah atau mengeluh ketika diperlakukan dengan tidak semestinya. Ia hanya terus mengalir, diam-diam menanggung semua yang manusia tinggalkan. Namun, justru karena itulah tanggung jawab untuk menjaganya berada di tangan kita. Kita tidak boleh membiarkan tempat-tempat yang menyimpan kenangan indah berubah menjadi simbol kelalaian.
Menjaga lingkungan bukan semata-mata tentang melindungi alam, tetapi juga tentang melindungi kenangan dan warisan yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak di masa depan berhak memiliki ruang yang sama untuk tertawa, bermain, dan menciptakan kenangan indah seperti yang pernah kita miliki. Mereka berhak mengenal sungai sebagai tempat yang menenangkan, bukan sebagai tempat yang dipenuhi sampah dan kesuraman.
Pengalaman kemarin mengajarkan saya bahwa kenangan tidak akan cukup untuk menjaga sebuah tempat tetap hidup. Nostalgia memang mampu membuat kita kembali mengingat masa lalu, tetapi hanya tindakan nyata yang dapat mempertahankan keindahan itu. Kita perlu belajar menghargai ruang-ruang yang pernah memberi kebahagiaan kepada kita. Sebab ketika tempat-tempat itu hilang, bukan hanya pemandangannya yang lenyap, melainkan juga sebagian dari cerita yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama. Kita harus berani menghadapi bayang-bayang yang telah kita ciptakan sendiri dan berhenti meninggalkan jejak kerusakan bagi orang lain. Dengan begitu, ruang-ruang yang indah akan tetap ada, tidak hanya sebagai kenangan masa lalu, tetapi juga sebagai hadiah berharga bagi masa depan. Karena setiap generasi berhak mewarisi tempat-tempat yang penuh kedamaian, tempat yang kelak akan mereka kenang sebagai bagian terindah dari masa kecil mereka.
***
* Penggagas Forum Kajian Keutuhan Ciptaan (FKKC) “SEMESTA”









