Monday, September 14, 2026
Imaji News
No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO
No Result
View All Result
Imaji News
No Result
View All Result
Home KOLOM

Elegi Sungai: Ketika Alam Menanggung Jejak Kegelapan Manusia

by Redaksi Imaji
June 26, 2026
in KOLOM, OPINI
Elegi Sungai: Ketika Alam Menanggung Jejak Kegelapan Manusia
0
SHARES
31
VIEWS
Share on Whatsapp

Penulis: T.H. Hari Sucahyo*

Setiap orang memiliki satu atau beberapa tempat yang tersimpan begitu dalam di dalam ingatan, tempat yang tidak hanya menjadi lokasi, tetapi juga menjadi bagian dari diri mereka sendiri. Tempat-tempat itu hidup di dalam memori sebagai ruang yang penuh ketenangan, perlindungan, dan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Bagi saya, salah satu tempat itu adalah sebuah sungai yang dahulu menjadi bagian penting dari masa kecil saya. Sungai itu bukan sekadar aliran air yang membelah daratan, melainkan saksi dari tawa, percakapan sederhana, dan kebahagiaan yang tumbuh tanpa beban.

Dalam ingatan saya, sungai itu selalu tampak sempurna. Airnya jernih dan dingin, mengalir tenang sambil memantulkan cahaya matahari yang hangat. Pepohonan di sekitarnya memberikan keteduhan yang menenangkan, sementara suara gemericik air berpadu dengan canda tawa yang mengisi hari-hari kecil saya. Di tempat itulah saya belajar menikmati hal-hal sederhana.

Tidak ada kemewahan, tidak ada teknologi yang mengalihkan perhatian, hanya alam yang begitu tulus menyambut siapa pun yang datang kepadanya. Bertahun-tahun berlalu, kehidupan membawa saya ke banyak tempat dan memperkenalkan saya pada berbagai pengalaman baru. Namun, seperti banyak orang lainnya, saya sering menyimpan kerinduan terhadap tempat-tempat yang pernah membentuk masa kecil saya.

Ada keinginan untuk kembali, seolah-olah tempat itu masih menunggu dengan kesetiaan yang sama, masih menyimpan suasana yang tidak berubah meskipun waktu terus berjalan. Belum lama, saya kembali ke sana. Saya datang dengan perasaan penuh harap dan sedikit kegembiraan. Saya membayangkan akan menemukan kembali ketenangan yang pernah saya rasakan.

Saya berharap suara air yang mengalir akan menyambut kedatangan saya dan membangkitkan kenangan yang selama ini tertidur di dalam ingatan. Namun, harapan itu perlahan memudar ketika saya tiba di tempat tersebut.

BACA JUGA  Menggali Elemen Etika Diplomasi dalam Al Qur’an

Sungai yang saya temukan terasa asing. Seolah-olah ia tidak lagi mengenali saya, dan saya pun sulit mengenali dirinya. Tempat yang dahulu begitu akrab kini berubah menjadi sesuatu yang jauh berbeda. Sekilas, nostalgia memang sempat hadir. Ada perasaan hangat yang muncul saat mengingat masa lalu, tetapi perasaan itu hanya bertahan sesaat.

Ketika saya mulai memperhatikan keadaan di sekeliling, kenyataan yang terpampang di depan mata menggantikan semua kenangan indah yang pernah ada. Di tepian sungai berserakan botol plastik, bungkus makanan, dan sepatu yang telah ditinggalkan begitu saja. Bau tidak sedap memenuhi udara dan merusak kesegaran yang dahulu menjadi ciri khas tempat ini.

Pemandangan tersebut sudah cukup menyedihkan, tetapi ada hal lain yang jauh lebih mengganggu. Di sepanjang jalan menuju sungai, tersembunyi di antara semak-semak dan pepohonan, berdiri berbagai gambar dan patung yang menyeramkan. Benda-benda itu tampak seperti bagian dari sesuatu yang sengaja ditinggalkan, menciptakan suasana yang tidak nyaman dan sulit dijelaskan.

Pemandangan itu meninggalkan kesan yang mendalam. Tempat yang dahulu menjadi simbol kepolosan dan keamanan kini berubah menjadi ruang yang terasa suram. Seolah-olah sungai itu tidak hanya menampung sampah yang dibuang manusia, tetapi juga menyerap sisi gelap dari perilaku manusia itu sendiri. Tempat yang pernah menjadi ruang bermain anak-anak kini terlihat seperti tempat yang kehilangan jiwanya.

Melihat kerusakan lingkungan sebenarnya bukan hal yang baru. Kita sering mendengar berita tentang pencemaran sungai, penebangan hutan, atau perubahan alam yang terjadi akibat ulah manusia. Namun, melihatnya secara langsung di tempat yang memiliki nilai emosional yang begitu besar memberikan rasa sakit yang berbeda. Ada perasaan kehilangan yang tidak mudah dijelaskan. Seakan-akan sebagian dari masa kecil saya ikut menghilang bersama perubahan yang terjadi di tempat itu.

BACA JUGA  Geliat Gig Economy di Kota Solo

Saya mulai menyadari bahwa alam memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap jejak manusia. Alam menyimpan kenangan baik yang pernah kita ciptakan, tetapi ia juga menerima segala bentuk kelalaian dan keburukan yang kita tinggalkan. Sungai yang dahulu mengalir membawa kesejukan kini juga membawa beban yang tidak semestinya ia tanggung. Tidak hanya sampah fisik, tetapi juga ketidakpedulian, keserakahan, dan sikap acuh yang perlahan mengikis keindahannya.

Perubahan ini menjadi pengingat bahwa waktu memang tidak bisa dihentikan, tetapi kerusakan seperti ini bukanlah sesuatu yang tidak dapat dicegah. Banyak dari kerusakan yang terjadi berasal dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap sepele. Satu botol yang dibuang sembarangan, satu kantong plastik yang ditinggalkan, atau satu tindakan yang mengabaikan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika hal-hal kecil itu dilakukan berulang kali oleh banyak orang, dampaknya menjadi sangat besar dan sulit diperbaiki.

Saat berjalan meninggalkan sungai itu, saya merasakan kesedihan yang begitu dalam. Kenangan indah yang selama ini tersimpan di dalam hati harus berdampingan dengan kenyataan pahit yang ada di depan mata. Saya menyadari bahwa generasi mendatang mungkin tidak akan pernah melihat sungai itu seperti yang pernah saya lihat dulu. Mereka mungkin tidak akan merasakan kejernihan airnya, keteduhan pepohonannya, atau kebebasan sederhana yang pernah menjadi bagian dari masa kecil saya.

Sungai tidak mampu berbicara untuk membela dirinya sendiri. Ia tidak dapat berteriak ketika dipenuhi sampah atau mengeluh ketika diperlakukan dengan tidak semestinya. Ia hanya terus mengalir, diam-diam menanggung semua yang manusia tinggalkan. Namun, justru karena itulah tanggung jawab untuk menjaganya berada di tangan kita. Kita tidak boleh membiarkan tempat-tempat yang menyimpan kenangan indah berubah menjadi simbol kelalaian.

BACA JUGA  Strategi Blue Ocean: Mengubah Persaingan Menjadi Inovasi Tak Tertandingi

Menjaga lingkungan bukan semata-mata tentang melindungi alam, tetapi juga tentang melindungi kenangan dan warisan yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak di masa depan berhak memiliki ruang yang sama untuk tertawa, bermain, dan menciptakan kenangan indah seperti yang pernah kita miliki. Mereka berhak mengenal sungai sebagai tempat yang menenangkan, bukan sebagai tempat yang dipenuhi sampah dan kesuraman.

Pengalaman kemarin mengajarkan saya bahwa kenangan tidak akan cukup untuk menjaga sebuah tempat tetap hidup. Nostalgia memang mampu membuat kita kembali mengingat masa lalu, tetapi hanya tindakan nyata yang dapat mempertahankan keindahan itu. Kita perlu belajar menghargai ruang-ruang yang pernah memberi kebahagiaan kepada kita. Sebab ketika tempat-tempat itu hilang, bukan hanya pemandangannya yang lenyap, melainkan juga sebagian dari cerita yang membentuk siapa diri kita hari ini.

Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama. Kita harus berani menghadapi bayang-bayang yang telah kita ciptakan sendiri dan berhenti meninggalkan jejak kerusakan bagi orang lain. Dengan begitu, ruang-ruang yang indah akan tetap ada, tidak hanya sebagai kenangan masa lalu, tetapi juga sebagai hadiah berharga bagi masa depan. Karena setiap generasi berhak mewarisi tempat-tempat yang penuh kedamaian, tempat yang kelak akan mereka kenang sebagai bagian terindah dari masa kecil mereka.

***

*  Penggagas Forum Kajian Keutuhan Ciptaan (FKKC) “SEMESTA”

 

SendShareTweetShare
Previous Post

Prabowo Ungkap Ada Aksi Demo Berbayar, Klaim Kantongi Identitas Penyandang Dana

Next Post

Samurai Biru Lolos ke Fase Gugur Usai Tahan Imbang Swedia

Related Posts

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo
DAERAH

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo

September 6, 2026
Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying
PENDIDIKAN

Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying

September 1, 2026
Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI
DAERAH

Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI

September 1, 2026
Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu
NASIONAL

Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu

August 31, 2026
Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen
DAERAH

Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen

August 30, 2026
Profesor Yusuf Zenal Abidin Terbitkan Buku Sosiologi Islam
PENDIDIKAN

Profesor Yusuf Zenal Abidin Terbitkan Buku Sosiologi Islam

August 23, 2026
Next Post
Samurai Biru Lolos ke Fase Gugur Usai Tahan Imbang Swedia

Samurai Biru Lolos ke Fase Gugur Usai Tahan Imbang Swedia

BERITA POPULER

  • Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    Proyek Strategis Nasional Dipindah, Luka Tertinggal di Tanah Fakfak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 15 Mahasiswa Unisri Terjun KKN di Desa Doyong Sragen, Siapkan Program Solutif untuk Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dosen Prodi Manajemen Unisri Gelar Pengabdian Internasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Undangan Menulis Jurnal Ilmiah Bisnis Digital dan Manajemen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KKN Nawasena Boyolali Berdayakan Perempuan Lewat Daur Ulang dan Pemanfatan SDA Melimpah.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BERITA TERBARU

DAERAH

Festival Payung Indonesia 2026 Meriahkan Taman Balekambang Solo

September 6, 2026
PENDIDIKAN

Dosen UII Terbitkan Buku Pendidikan Inklusif dan Pencegahan Bullying

September 1, 2026
DAERAH

Mahasiswa Baru Politeknik Akbara Ikuti Pelatihan Literasi Digital dan AI

September 1, 2026
NASIONAL

Perkuat Kolaborasi Nasional, FEB Unisri Gandeng Universitas Tadulako dan Universitas Muhammadiyah Palu

August 31, 2026
DAERAH

Tingkatkan Minat Baca Warga, KKN Unisri Resmikan Perpustakaan Dari Cerdas di Sragen

August 30, 2026
ADVERTISEMENT

Portal berita imajinews.com merupakan media siber di bawah naungan Indonesia Imaji Group (SK Kemenkumham Nomor: AHU-0009010-AH.01.06 Tahun 2026). Kabar baik untuk Indonesia.

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Kontak Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kirim Tulisan

Kontak Kami

imajinews@gmail.com

0851 5840 5844

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

No Result
View All Result
  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • KOLOM
    • OPINI
    • SASTRA
    • EDITORIAL
  • PENDIDIKAN
  • EKONOMI-POLITIK
  • TEKNOLOGI
  • OLAHRAGA
  • ADVERTORIAL
  • GAYA HIDUP
  • VIDEO

© 2026 Indonesia Imaji - All Right Reserved Imaji News.

Berita Eksklusif Terkini di Imaji News