Ada kalanya hidup terasa melelahkan bukan karena terlalu banyak pekerjaan, melainkan karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Persoalan yang belum terjadi sudah membuat cemas, masalah orang lain ikut dipikirkan, sementara hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali justru menghabiskan energi paling banyak.
Kondisi semacam ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan percakapan yang sudah berlalu, membayangkan kemungkinan buruk di masa depan, atau merasa harus memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Padahal, tidak semua hal membutuhkan perhatian yang sama dan tidak semua keadaan berada dalam kendali kita.
Sebuah unggahan dari akun luthfiham di Threads menawarkan cara sederhana untuk melihat persoalan tersebut. Unggahan itu merangkum lima prinsip untuk menjalani hidup dengan lebih tenang:
tidak memikirkan sesuatu yang memang tidak perlu dipikirkan, tidak mencemaskan peristiwa buruk yang belum terjadi, peduli secukupnya, melepaskan kebutuhan untuk mengendalikan segala sesuatu, serta menyesuaikan perubahan dengan kemampuan diri.

Pesannya terdengar sederhana, tetapi justru di situlah menariknya. Hidup tenang bukan selalu tentang menghilangkan masalah. Lebih sering, ketenangan muncul ketika seseorang mampu menentukan masalah mana yang memang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Tidak Semua Hal Harus Masuk ke Kepala
Pikiran manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk memproses berbagai informasi. Namun, kemampuan itu juga dapat menjadi sumber kelelahan ketika digunakan tanpa batas. Berita tentang orang lain, komentar di media sosial, persoalan pekerjaan, hubungan personal, hingga kemungkinan yang belum tentu terjadi bisa bercampur menjadi satu.
Karena itu, membedakan antara sesuatu yang penting dan sesuatu yang hanya mengganggu pikiran menjadi keterampilan yang berharga. Tidak semua komentar membutuhkan respons. Tidak semua persoalan orang lain harus diselesaikan oleh kita. Dan tidak setiap kemungkinan buruk perlu dipersiapkan secara berlebihan.
Menjaga ketenangan bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli. Justru sebaliknya, seseorang perlu belajar memberikan perhatian secara proporsional agar energinya tidak habis untuk hal-hal yang tidak dapat diubah.
Berhenti Mengalami Masalah yang Belum Terjadi
Salah satu kebiasaan yang sering membuat pikiran lelah adalah mencemaskan kejadian yang sebenarnya belum terjadi. Kita membayangkan bagaimana jika gagal, bagaimana jika seseorang kecewa, bagaimana jika rencana tidak berjalan, atau bagaimana jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi.
Padahal, kemungkinan bukanlah kenyataan.
Mempersiapkan diri terhadap risiko tentu penting. Namun, ada perbedaan antara persiapan dan kekhawatiran berlebihan. Persiapan membuat seseorang mengambil tindakan, sementara kekhawatiran yang terus berputar sering kali hanya membuat energi terkuras tanpa menghasilkan solusi.
Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah kembali bertanya: Apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan sekarang? Jika jawabannya ada, lakukan bagian yang memang dapat dikerjakan. Jika tidak ada, mungkin saatnya berhenti memaksa pikiran mencari kendali atas sesuatu yang memang belum terjadi.
Peduli, Tetapi Tidak Harus Menanggung Semuanya
Nasihat “peduli secukupnya” juga menarik untuk direnungkan. Dalam kehidupan sosial, kepedulian memang diperlukan. Kita membutuhkan keluarga, teman, rekan kerja, dan lingkungan sosial. Namun, kepedulian dapat berubah menjadi beban ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas semua hal yang dialami orang lain.
Ada batas antara membantu dan mengambil alih.
Seseorang dapat memberikan nasihat tanpa harus memastikan orang lain mengikuti nasihat tersebut. Kita dapat membantu teman tanpa harus menyelesaikan seluruh persoalannya. Kita juga dapat menyayangi seseorang tanpa harus mengendalikan seluruh pilihan hidupnya.
Memberikan ruang kepada orang lain sekaligus kepada diri sendiri merupakan bagian dari menjaga keseimbangan.
Melepaskan Kendali yang Memang Tidak Kita Miliki
Manusia cenderung menyukai kepastian. Kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi, memastikan rencana berjalan sesuai keinginan, dan menghindari kemungkinan yang tidak menyenangkan. Masalahnya, kehidupan tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.
Kita bisa mengatur usaha, tetapi tidak selalu dapat menentukan hasil. Kita dapat berbicara dengan baik kepada seseorang, tetapi tidak dapat mengontrol bagaimana orang tersebut menafsirkan perkataan kita. Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi tetap harus berhadapan dengan berbagai kejutan di sepanjang perjalanan.
Menyadari keterbatasan kendali bukan berarti menyerah. Justru, ini membantu seseorang mengalihkan energi dari sesuatu yang tidak dapat dikontrol menuju sesuatu yang memang bisa dilakukan.
Berubah Sesuai Kapasitas
Poin terakhir dari unggahan tersebut mungkin menjadi yang paling realistis: mengubah kondisi sesuai kapasitas.
Di tengah budaya produktivitas yang sering mendorong seseorang untuk terus berkembang, ada kecenderungan menganggap bahwa setiap masalah harus segera diselesaikan. Padahal, kapasitas setiap orang berbeda. Ada masa ketika seseorang mampu bekerja lebih keras, tetapi ada pula masa ketika bertahan dan menyelesaikan kebutuhan dasar saja sudah cukup.
Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Tidak semua target harus dicapai dalam waktu yang sama. Menyesuaikan langkah dengan kemampuan bukan berarti memiliki ambisi yang rendah, melainkan memahami bahwa manusia memiliki batas energi, waktu, dan perhatian.
Pada akhirnya, hidup yang tenang mungkin bukan kehidupan tanpa masalah. Ketenangan lebih dekat dengan kemampuan untuk memilih masalah mana yang layak mendapatkan energi kita.
Kita tidak selalu bisa menentukan apa yang terjadi besok. Kita juga tidak dapat mengendalikan semua orang, keadaan, maupun hasil dari setiap usaha. Namun, kita masih memiliki ruang untuk menentukan bagaimana meresponsnya.









