Surakarta – Ada satu momen yang barangkali jarang disadari orang: setiap kali kita menutup sebuah buku dan merasa “ah, ini bagus juga,” ada rantai panjang di belakangnya, penulis yang berjibaku dengan naskah, editor yang menyisir tiap koma, hingga penerbit yang berani mempertaruhkan modal untuk karya yang belum tentu laku.
Salah satu penerbit yang diam-diam ikut menghidupkan rantai itu di Indonesia adalah CV Indonesia Imaji, sebuah rumah penerbitan yang bermarkas di Jalan Sumbing Raya, Mojosongo, Jebres, Surakarta.
Kisah Indonesia Imaji tidak dimulai dari kantor yang mengilap, melainkan dari sebuah komunitas literasi yang lahir pada 2017.
Selama tiga tahun, komunitas ini bergerak dari diskusi ke diskusi, sebelum akhirnya pada medio 2020 memutuskan bertransformasi menjadi penerbit sekaligus toko buku resmi berbadan hukum CV.
Perjalanan itu terasa relevan dengan romantisme banyak usaha kreatif di Indonesia: dimulai dari kecintaan pada satu hal, baru kemudian dibungkus jadi bisnis yang serius.
Keseriusan itu terlihat dari legalitasnya. Indonesia Imaji tercatat sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dengan nomor anggota 292/JTI/2021, dan setiap buku yang mereka terbitkan memiliki ISBN, baik untuk versi cetak maupun elektronik.
Bagi penulis pemula, dua hal ini penting: ISBN adalah “KTP” resmi sebuah buku di mata dunia perbukuan internasional, sementara status IKAPI menjadi jaminan bahwa penerbit menjalankan usahanya sesuai kode etik dan regulasi yang berlaku.
Membangun Ekosistem Digital
Menariknya, Indonesia Imaji tidak berhenti di buku cetak. Karya-karya terbitan mereka juga merambah pasar ebook lewat platform Bacabuku.com dan aplikasi Kubuku, milik PT Enam Kubuku Indonesia—salah satu penyedia ekosistem buku digital terbesar di Tanah Air.
Di sana, koleksi Indonesia Imaji tersebar dalam berbagai kategori, mulai manajemen, bahasa dan sastra, hukum, sosial, pertanian dan perkebunan, hingga pendidikan dan akuntansi.
Sebagian judulnya adalah kumpulan puisi personal, seperti antologi karya penulis muda yang mengangkat kisah cinta dan perjalanan emosional lewat lebih dari lima puluh puisi yang ditulis bertahun-tahun.
Untuk distribusi yang lebih luas, penjualan buku cetak juga dibantu lewat platform digital seperti Myedisireader, Shopee, dan TikTok Shop, selain penjualan luring melalui pengadaan dan berbagai kegiatan.
Setiap penulis pun bebeas memilih variasi tergantung paket penerbitan yang dipilih; mulai dari paket Bahagia, Kreatif, dan Idealis di mana penulis menanggung biaya produksi namun mendapat kebebasan menentukan royalti dan harga jual, hingga paket Mayor di mana penerbit yang menanggung biaya pracetak dan cetak dengan skema bagi hasil 50 persen dari keuntungan.
Katalog mereka pun tidak main-main jumlahnya: tercatat lebih dari seratus tiga puluh judul buku yang siap dipesan, mulai dari buku ajar akademik seperti “Akuntansi Sektor Publik” dan “Manajemen Strategi Bisnis,” hingga karya-karya yang lebih personal seperti kumpulan puisi “Nanti Ketika di Malang.”
Beri Panggung untuk Ilmuwan dan Praktisi Muda
Yang membuat Indonesia Imaji terasa unik dibanding penerbit indie kebanyakan adalah keberadaan dua platform jurnal ilmiah yang mereka kelola sendiri.
Pertama, ada DIGITIVE, jurnal yang berfokus pada bisnis digital, manajemen, dan akuntansi, terbit dua kali setahun setiap Januari dan Juli. Jurnal ini menjadi ruang bagi akademisi maupun praktisi untuk membahas topik-topik seperti transformasi digital UMKM, inovasi fintech, hingga perilaku konsumen di era e-commerce.
Tak tanggung-tanggung, edisi terbaru memuat riset lintas negara; termasuk studi dari peneliti Bangladesh mengenai adopsi pembayaran mobile di kalangan mahasiswa, berdampingan dengan riset lokal soal efektivitas ojek daring sebagai saluran promosi produk UMKM di Tuban.
Kedua, ada Repository CV Indonesia Imaji (RCII), semacam arsip digital yang secara berkala mendokumentasikan buku-buku ilmiah terbitan mereka. Baik DIGITIVE maupun RCII berjalan di atas sistem Open Journal Systems (OJS) yang lazim dipakai jurnal-jurnal akademik dunia, dan terindeks di Google Scholar, penanda bahwa karya-karya tersebut bisa dilacak dan dikutip oleh peneliti lain di seluruh dunia.
Wajah di Balik Nama
Di balik operasional itu, ada tim kecil yang dipimpin oleh Muhammad Luthfi Hamdani selaku direktur, dibantu tim editor, desainer sampul dan layout, hingga bagian operasional-keuangan serta pemasaran-distribusi.
Sementara di sisi penulis, deretan nama yang berkarya bersama Indonesia Imaji cukup beragam; mulai dari akademisi bergelar doktor di bidang hukum dan ekonomi syariah, dosen-dosen di berbagai perguruan tinggi, hingga penulis muda yang menuangkan puisi personal lewat nama pena, seperti “ni.koja,” gadis kelahiran Bogor yang mengumpulkan curahan hatinya di Instagram sebelum akhirnya menjadi buku.
Inspirasi di Balik Halaman
Ada semacam pesan yang konsisten muncul dari perjalanan Indonesia Imaji: menulis dan menerbitkan bukan lagi monopoli nama-nama besar atau kota metropolitan.
Dari sebuah kota di Jawa Tengah, sebuah komunitas kecil bisa tumbuh menjadi penerbit yang naskahnya menjangkau pembaca lintas platform, dari rak toko buku fisik, aplikasi ebook, sampai jurnal ilmiah yang diakses peneliti mancanegara.
Bagi siapa pun yang menyimpan naskah di laptop dan ragu untuk memulai, kisah ini barangkali jadi pengingat sederhana:
keabadian sebuah gagasan tidak ditentukan oleh seberapa besar nama penerbitnya, melainkan seberapa berani penulisnya melangkah untuk menerbitkan karya itu, dan seberapa telaten sebuah tim kecil menjaga agar karya tersebut sampai ke tangan pembaca yang tepat.






