Kerinci, imajinews.com – Di balik semboyan yang terpampang pada lambang sebuah daerah, tersimpan cerita tentang nilai, sejarah, dan cara masyarakat memandang kehidupan. Persatuan, gotong royong, amanah, keberanian, keadilan hingga kepedulian terhadap alam dapat ditemukan dalam beragam ungkapan yang diwariskan antargenerasi. Gagasan tersebut menjadi titik berangkat Prof. Dr. Muhamad Yusuf, S.Ag., M.Ag. dan Qonita Izzati, S.Kom. dalam buku terbaru berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal: Memahami Motto Daerah melalui Perspektif Sosiologi, Antropologi, Agama, dan Budaya, yang diterbitkan CV Indonesia Imaji.
Buku ini menawarkan cara pandang bahwa motto daerah tidak semestinya berhenti sebagai identitas simbolik pada lambang pemerintahan. Di dalamnya terdapat nilai yang lahir dari pengalaman sosial dan kebudayaan masyarakat. Melalui pendekatan sosiologi, antropologi, agama, dan budaya, penulis mengajak pembaca menelusuri bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi sumber pendidikan karakter. Keragaman bahasa dan budaya daerah justru dipandang sebagai kekayaan yang dapat memperluas pemahaman tentang karakter bangsa Indonesia.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika pendidikan karakter berhadapan dengan perubahan sosial yang cepat. Buku ini menempatkan kearifan lokal sebagai jembatan antara warisan masa lalu dan kebutuhan masyarakat masa kini. Tradisi, bahasa, agama, lingkungan, dan pengalaman sosial diposisikan sebagai ruang pembentukan karakter melalui keteladanan dan kebiasaan. Karena itu, pembaca tidak hanya diajak mengenali bunyi sebuah semboyan, tetapi memahami nilai kemanusiaan di baliknya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Prof. Dr. Muhamad Yusuf, S.Ag., M.Ag. merupakan akademisi yang berkiprah di lingkungan IAIN Kerinci. Dalam karya ini, pengalaman dan perspektifnya di bidang pendidikan dan keislaman menjadi salah satu fondasi untuk membaca kearifan lokal tidak hanya dari sisi kebudayaan, tetapi juga dari dimensi nilai dan pembentukan karakter. Sementara Qonita Izzati, S.Kom. turut hadir sebagai penulis dengan latar belakang yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan generasi masyarakat digital. Informasi yang tersedia pada materi buku juga menyebut Qonita sebagai bagian dari keluarga penulis, sehingga kolaborasi keduanya memperlihatkan upaya mempertemukan pengalaman lintas generasi dalam pembahasan pendidikan karakter.
Menariknya, buku ini tidak memosisikan kearifan lokal sebagai sesuatu yang harus dibekukan sebagai peninggalan masa lalu. Sebaliknya, nilai yang terkandung di dalamnya dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, perguruan tinggi, masyarakat hingga pemerintahan. Misalnya, persatuan dapat dimulai dari kebiasaan bekerja bersama dalam keluarga, sementara kejujuran dapat dibangun melalui keteladanan orang tua dalam mengakui kesalahan dan menepati janji. Pendekatan semacam ini membuat pendidikan karakter terasa lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Keragaman motto daerah juga menjadi kekuatan tersendiri dalam buku ini. Perbedaan bahasa, sejarah, lingkungan, keyakinan, dan pengalaman sosial membuat setiap wilayah memiliki cara masing-masing dalam menggambarkan kehidupan yang dianggap baik dan bermartabat. Namun, di balik perbedaan tersebut terdapat nilai yang memiliki irisan, seperti persatuan, ketekunan, keadilan, amanah, kesejahteraan, dan kepedulian. Dengan demikian, perbedaan ungkapan lokal justru dapat menjadi jalan untuk menemukan nilai kemanusiaan yang dapat dipahami bersama.
Bagi dunia pendidikan, pendekatan tersebut memberikan alternatif untuk menanamkan karakter tanpa melepaskannya dari lingkungan budaya peserta didik. Mahasiswa dan akademisi dapat menjadikan buku ini sebagai referensi untuk kajian pendidikan karakter, budaya, agama, maupun masyarakat. Sementara guru dan orang tua dapat menggunakannya sebagai inspirasi untuk mengenalkan nilai lokal melalui cerita keluarga, asal-usul daerah, bahasa, tradisi, dan pengalaman generasi terdahulu. Nilai budaya dengan demikian tidak sekadar diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi dihidupkan melalui pengalaman.
Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal: Memahami Motto Daerah melalui Perspektif Sosiologi, Antropologi, Agama, dan Budaya, Penerbit Indonesia Imaji menghadirkan literatur yang berusaha mempertemukan identitas budaya dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Buku ber-ISBN 978-634-7833-12-9 ini pada akhirnya menawarkan gagasan sederhana tetapi penting: karakter bangsa dapat dibangun dengan mengenali kembali nilai yang telah hidup di tengah masyarakat. Berbeda kata dan berbeda daerah, tetapi dapat bertemu dalam nilai yang sama untuk memperkuat Indonesia sebagai satu rumah kebangsaan.









