Bahasa Arab kerap dipahami sebagai bahasa yang baku, normatif, bahkan tidak jarang ditempatkan begitu saja di luar dinamika budaya masyarakat. Padahal, ketika masuk ke ruang sosial, bahasa Arab berinteraksi dengan tradisi, budaya, kekuasaan, dan pengalaman keagamaan masyarakat yang menggunakannya. Persoalan inilah yang menjadi titik berangkat Dr. Ahmad Zubaidi, S.Pd., M.Pd., dalam buku terbarunya Arab, Lokal, dan Islam: Bahasa Arab dalam Negosiasi Teks, Tradisi, dan Identitas Keislaman, yang diterbitkan oleh CV Indonesia Imaji.
Buku yang dibanderol Rp70.000 dengan ISBN 978-623-8067-84-8 ini menawarkan cara pandang yang berbeda dalam melihat bahasa Arab. Alih-alih hanya membahas persoalan gramatikal, penulis mengajak pembaca melihat bagaimana bahasa Arab hidup dalam masyarakat Muslim Indonesia, bernegosiasi dengan tradisi lokal, serta membentuk identitas keislaman. Pendekatan tersebut membuat bahasa tidak lagi dipahami sekadar sebagai alat untuk membaca teks agama, tetapi juga sebagai bagian dari proses sosial dan kebudayaan.
Ahmad Zubaidi merupakan dosen tetap Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan bidang keahlian Pendidikan Bahasa Arab. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Kediri, magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan doktor Studi Islam di kampus yang sama. Pada 2025, ia menyelesaikan studi doktoralnya dengan penelitian mengenai pengembangan platform pembelajaran keterampilan menulis bahasa Arab berbasis digital menggunakan ChatGPT.
Kiprah akademik Ahmad juga terlihat dari sejumlah karya yang telah dihasilkannya. Dalam bidang pembelajaran bahasa Arab, ia antara lain menulis Tes Kemampuan Mendengar Bahasa Arab Berbasis Kahoot dan Hadits-Hadits Tarbawy, yang tercatat dalam basis data SINTA. Ia juga aktif meneliti pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran bahasa Arab, termasuk pengembangan media pembelajaran mahārah al-kalām berbasis TikTok dan instrumen tes mahārah al-istimā’ menggunakan Kahoot. Rekam jejak tersebut memperlihatkan perhatian Ahmad terhadap pertemuan antara bahasa Arab, pendidikan Islam, dan perkembangan teknologi.
Dalam buku terbarunya, perhatian tersebut diperluas dari ruang kelas menuju persoalan bahasa, tradisi, dan identitas. Penulis membahas bagaimana teks Arab diterima dan dimaknai dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia, termasuk melalui dinamika pesantren dan tradisi kitab kuning. Teks yang sama dapat mengalami proses pemaknaan berbeda ketika berhadapan dengan latar budaya yang berbeda. Di sinilah buku ini menawarkan perspektif bahwa ekspresi Islam tidak selalu seragam, meskipun umat merujuk pada sumber-sumber keagamaan yang sama.
Pembahasan menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan perkembangan media sosial. Arus informasi digital membuat teks dan istilah berbahasa Arab dapat menyebar dengan sangat cepat, sekaligus memunculkan perdebatan mengenai otoritas keagamaan, arabisasi budaya, dan batas antara kemurnian ajaran dengan kekayaan tradisi lokal. Buku ini mencoba membaca fenomena tersebut melalui perpaduan perspektif linguistik, sosiologi agama, dan antropologi budaya, sehingga pembaca dapat melihat persoalan bahasa secara lebih luas daripada sekadar benar atau salah secara gramatikal.
Salah satu keunggulan karya ini adalah upayanya menghubungkan teori dengan pengalaman konkret umat Islam Indonesia. Pembahasan mengenai pesantren, tafsir lokal terhadap teks Arab, tradisi keagamaan, hingga wacana moderasi di ruang digital menjadikan buku ini dekat dengan realitas sosial. Pendekatan semacam ini juga membantu pembaca memahami mengapa ekspresi keberislaman dapat memiliki corak berbeda di berbagai wilayah, tanpa harus mempertentangkan perbedaan tersebut dengan keberadaan sumber ajaran yang sama.
Melalui Arab, Lokal, dan Islam: Bahasa Arab dalam Negosiasi Teks, Tradisi, dan Identitas Keislaman, CV Indonesia Imaji menghadirkan literatur yang mempertemukan bahasa, agama, dan budaya dalam satu pembahasan yang kontekstual. Buku ini tidak hanya relevan bagi mahasiswa dan peneliti bahasa Arab atau pendidikan Islam, tetapi juga bagi pendidik dan pembaca yang ingin memahami bagaimana bahasa, tradisi lokal, dan identitas keislaman terus dinegosiasikan di tengah perubahan sosial dan digital. Dengan demikian, karya ini menawarkan satu pesan penting: memahami bahasa Arab dalam konteks Indonesia berarti juga memahami masyarakat yang menghidupkan, menafsirkan, dan memberinya makna.









